WELCOME

Welcome in My Blog semoga berguna buat semuanya

Jumat, 21 Januari 2011

Keamanan Komputer

Posted by Menulis yuuuuukk..... 16.06, under | No comments


Melindungi Keamanan Jaringan dengan Firewall

I.            Pendahuluan
Hampir semua orang mencemaskan sisi keamanan perusahaan. Sebagai jalan keluarnya, mereka menerapkan sistem keamanan berlapis untuk melindungi aset perusahaan. Sistem keamanan berlapis itu misalnya, meliputi pagar halaman, pintu utama, pintu ruangan serta lemari dan brankas, ditambah dengan pengawasan dan monitoring secara terus menerus satuan pengaman. Sebagai tambahan, perusahan membuat satu kebijakan yang mengatur masalah keamanan. Seringkali kebijakan keamanan itu mengatur sampai detail, misalnya, mengenai teguran pada karyawan yang lalai menutup dan mengunci pintu lemari arsip.
Di sisi lain, karyawan yang lalai mematikan komputer seringkali luput dari kebijakan keamanan. Komputer yang tidak dimatikan lebih sering dipandang sebagai suatu bentuk pemborosan energi. Padahal, meninggalkan kantor dalam keadaan koputer menyala sama saja dengan meninggalkan kantor tanpa menutup dan mengunci pintu. Melalui komputer tersebut, data atau sistem perusahaan bisa disusupi orang yang tidak berhak.

Ø     Gangguan keamanan jaringan
            Ilustrasi kecil itu menunjukkan masih rentannya sistem keamanan jaringan komputer di lingkungan perusahaan. Sebuah survei yang dilakukan Ernst & Young mengindikasikan lemahnya perencanaan sistem keamanan jaringan. Survei dengan responden lebih dari 450 chief information officer itu menunjukkan, banyak perusahaan, termasuk sebagian besar perusahaan di Indonesia, tidak konsisten dalam menerapkan langkah-langkah yang berkaitan dengan sistem keamanan jaringan sekalipun kesadaran terhadap resiko dari ancaman-ancaman tersebut cukup tinggi.
            Kerugian yang ditimbulkannya bisa bernilai ribuan, puluhan ribu, atau bahkan puluhan juta. Tergantung bentuk dan intensitas gangguan serta akibat yang ditimbulkannya. Karena sifatnya yang seringkali menyentuh intangible asset perusahaan, inventarisir kerugian akibat kejahatan melalui komputer relatif lebih sult dilakukan dibanding kejahatan tradional.
              Pada kasus gangguan atau serangan terhadap aplikasi yang menyebabkan sistem down, kerugian yang ditimbulkan bisa mencapai puluhan juta rupiah per jamnya. Kerugian ini tampak sangat nyata pada aplikasi e-commerce. Akibat down time, perusahaan kehilangan pemasukan dari penjualan secara online serta akibat terputusnya mata rantai suplai.
            Jika perusahaan hanya kehilangan kerahasiaan data akibat hacker yang iseng mengintip sistem email perusahaan, kerugian bisa jadi hanya beberapa ribu rupiah saja. Lain halnya jika kemudian perusahaan juga kehilangan keunggulan kompetitifnya akibat bocornya rahasia tadi, kerugian yang bakal dialami juga akan semakin meningkat.
            Sedangkan jika database perusahaan yang diganggu, perusahaan harus menyediakan anggaran untuk memperbaiki atau membuat ulang databasenya. Kasus ini banyak terjadi di mana para hacker mengganti isi situs web dengan informasi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan perusahaan atau malah yang merugikan citra perusahaan.
Pada semua kasus, gangguan terhadap keamanan jaringan menimbulkan efek samping, yakni reputasi atau citra perusahaan serta masalah hubungan masyarakat lainnya. Sekali jaringan berhasil disusupi, perusahaan harus bekerja keras mengembalikan kepercayaan publik untuk kembali melakukan transaksi melalui jaringannya. Tidak jarang, upaya ini mesti dilakukan dengan dukungan dana yang tidak sedikit.
            Tidak semua gangguan terhadap jaringan berasal dari luar. Gangguan bisa dari orang dalam atau yang disebabkan oleh virus. Semuanya berpotensi merugikan perusahaan. Sudah seharusnya, semua gangguan tadi diantisipasi dengan tepat.

Ø     Firewall dan IDS
            Jika kecemasan terhadap gangguan keamanan secara fisik diantisipasi dengan pintu yang berlapis serta satuan pengaman untuk melakukan pengawasan secara fisik pula, potensi gangguan terhadap keamanan melalui jaringan juga harus dilakukan dengan langkah serupa. Bedanya, semua dilakukan dengan menerapkan sistem dan perangkat keras dalam jaringan.
            Semua fungsi pintu yang berlapis mulai dari pintu pagar, pintu kantor serta lemari atau brankas dalam sistem keamanan tradional terwakili oleh perangkat firewall dalam sistem keamanan jaringan. Firewall mengatur seluruh akses ke dalam jaringan. Hanya pengguna yang sudah terotorisasi, atau memegang kunci sebagai analoginya, bisa masuk ke wilayah-wilayah sesuai peruntukannya. Firewall juga mengambil alih fungsi pengawasan oleh satuan keamanan untuk mendeteksi semua gangguan atau potensi gangguan keamanan yang ada. Sebagai sentral dari sistem keamanan jaringan, firewall didesain untuk tidak bisa di serang oleh hacker.
            Selain memanfaatkan firewall, jaringan perlu dilengkapi dengan perangkat intusion detection system (IDS). Perangkas IDS mampu menganalisa semua trafik ke dalam jaringan secara real time. Dengan kemampuan ini, IDS bisa mendeteksi akses oleh pihak yang tidak berhak ke dalam jaringan seperti hacker. Ketika akses dari pihak yang tidak berhak terdeteksi, sensor akan memberi peringatan ke manajemen console disertai rekomendasi aktifitas yang bisa dilakukan dan mengontrol sistem lain seperti router untuk menghentikan aktifitasnya.
              Dengan banyaknya pilihan perangkat firewall maupun IDS yang tersedia di pasar, perusahaan perlu mencermati secara teliti serta menganalisa kebutuhannya sebelum memutuskan untuk melakukan invetasi. Pertimbangan utama yang bisa diguanakan adalah kinerja, skalabilitas dan harga, di samping dukungan dari para vendor.
            Yang perlu diperhatikan, pemanfaatan firewall dan IDS dalam sistem keamanan jaringan merupakan satu bagian dari strategi keamanan jaringan secara keseluruhan. Strategi keamanan jaringan bukan proyek yang akan selesai begitu komponen seperti firewall dan IDS, sebagai oerangkat utama, selesai terpasang. Namun merupakan sebuah proses yang harus dilakukan secara terus menerus. Seperti dalam dunia nyata, sebuah strategi keamanan jaringan yang efektif membutuhkan pertahanan yang mendalam dan keamanan berlapis. Semuanya merupakan kombinasi dari proses bisnis itu sendiri, teknologi yang diimplementasikan serta keahlian untuk mendukung kegiatan operasi

Ø     . Petunjuk Keamanan Firewall
Standard Keamanan Firewall Yang Melindungi Jaringan Private Anda
Guideline Standard keamanan firewall memberikan keamanan firewall yang melindungi infrastruktur jaringan private anda dari jaringan diluarnya atau Jaringan public dari segala serangan jaringan dari jaringan public. Jaringan-2 juga harus dibedakan berdasarkan segmen jaringan jika perlu memberikan system keamanan yang berbeda terhadap suatu boundary segmen jaringan.
Suatu firewall adalah suatu system yang mengendalikan aliran traffic antar jaringan dan memberikan suatu mekanisma untuk melindungi host terhadap ancaman keamanan jaringan. Perlu dicatat bahwa firewall tidak dapat mengendalikan dan melindungi terhadap traffic yang tidak mengalir melalui gerbang keamanan (missal modem dial-up akan mem-bypass semua firewall), ataupun serangan yang berasal dari dalam jaringan private anda bahkan dari authorized user sendiri.
Firewall yach firewall dimana keamanan tergantung policy keamanan yang diterapkan terhadapnya (berdasarkan rule firewall). Karena jumlah dan varitas dari perkembangan ancaman-2 dan titik-2 lemah keamanan begitu gampangnya didistribusikan ke Internet, firewall tidak pernah bisa melakukan proteksi 100% terhadap segala kemungkinan ancaman, makanya diperlukan suatu standard keamanan firewall dalam melindungi jaringan infrastruktur dalam organisasi anda.
Melingkupi apa saja standard keamanan firewall itu? Berikut adalah ringkasan dari standard keamanan firewall yang perlu diterapkan dalam suatu infrastruktur jaringan.
1. Topology Firewall
Keamanan firewall seharusnya meng cover penggunaan firewall yang tepat, yaitu topology firewall dan policy keamanan firewall. Pemilihan topology firewall ini menjadi kritis dalam memastikan keamanan terhadap ancaman keamanan jaringan.
·      Suatu firewall yang aman harus digunakan untuk memberika pelindungan terhadap ancaman-2 dari luar – public Internet (atau disebut jaringan un-trusted).
·      Jaringan yang memerlukan boundary kemanan khusus haruslah dalam segmen khusus.
2. Kebutuhan fungsional firewall
Firewall corporate haruslah melekat pada standard minimum tertentu suatu keamanan firewall. Hal ini merupakan suatu kebutuhan untuk memastikan bahwa asset internal suatu corporate terlindungi dengan konfigurasi firewall yang tepat. Standard keamanan minimum haruslah mendefinisikan kebutuhan fungsional dari firewall yang digunakan pada jaringan corporate.
3. Konfigurasi firewall default
Firewall yang menghadap langsung kepada jaringan Internet secara defaultharuslah mencegah semua traffic yang tidak secara spesifik diijinkan lewat oleh policy keamanan firewall. Hal ini untuk memastikan bahwa keamanan maksimum jaringan di terapkan terhadap jaringan-2 un-trusted dan tidak authorized.
4. Internal firewall
Pemakaian internal firewall didalam jaringan internal corporate tidak dianjurkan. Jika perlu pemakaian firewall internal, maka haruslah konfigurasinya tidak sampai menghalangi layanan-2 dan aplikasi inti dari corporate seperti layanan Active directory corporate, email system, dan layanan domain name system yang mana dianggap sebagai layana-2 yang kritis dari operasi jaringan corporate global.
5. External firewall
Standard keamanan firewall tentang pemakaian firewall yang menghadap langsung ke jaringan Internet haruslah di configure sedemikian rupa untuk melindungi jaringan internal corporate dari segala macam ancaman keamanan jaringan. Hal ini meliputi semua firewall yang menghadap langsung kepada internet.
6. Auditing dan logging firewall
Salah satu tugas yang sangat penting untuk dilakukan adalah melakukan audit secara regular. Hal ini untuk memastikan bahwa firewall melaksanakan tugasnya untuk melindungi keamanan jaringan dan tidak terjadi suatu kompromi keamanan. Tugas auditing ini haruslah dilakukan oleh tenaga yang ahli dalam bidang keamanan jaringan yang juga termasuk analisa platform firewall dan rule yang diconfigure didalamnya, dan alert serta logging berdasarkan ukuran-2 keamanan. Firewall logging juga sangat penting untuk menentukan keamanan system firewall dan asset yang dilindunginya. Semua kegiatan yang dianggap mencurigakan haruslah di log begitu juga manajemen konfigurasi firewall, untuk membantu identifikasi dari percobaan akses orang-2 yang tidak authorized. Logging ini juga haruslah dibackup secara rutin.
7. Contingency planning
Standard keamanan firewall untuk rencana kemungkinan terburuk terjadi (contingency planning) haruslah dipersiapkan dengan cara memikirkan procedure response dan action yang harus diambil jika terjadi berbagai event yang berhubungan dengan keamanan firewall. Event-2 ini bisa meliputi kompromi system/host, serangan keamanan, tidak berfungsinya system, dan juga terjadinya outage (power mati).
8. Firewall access privileges(hak akses firewall)
Hak untuk memodifikasi konfigurasi firewall (rule base) haruslah dibatasi hanya kepada personel yang ahli dalam bidang keamanan jaringan yang authorized saja. Semua firewall haruslah di kelola oleh setidaknya 2 orang ahli dibidang keamanan jaringan yang telah mendapatkan training yang mencukupi dan berkompeten dalam bidangnya dalam memanage system firewall dan mempunyai pemahaman masalah jaringan dan keamanan jaringan dengan sangat kuat.
9. System Management Jaringan Firewall
System firewall haruslah dikonfigurasi sehingga dia menjadi bisa dilihat oleh system managemen jaringan internal. Hal ini adalah persyaratan sehingga alert managemen jaringan dan keamanan dan pelaporan dapat diakses dan diberikan action tepat waktu.
10. Dedicated firewall
Firewall haruslah di mesin tersendiri dan dengan system keamanan yang diperkuat. Karena sifat keamanan dari firewall, server firewall haruslah tidak boleh difungsikan untuk applikasi alternative lainnya seperti server Webm system Email, print server dan lainnya.
11. Firewall changed control
Suatu system firewall haruslah mengikuti prinsip perijinan persetujuan dalam manajemen perubahan. Hal ini berhubungan dengan hardware, software, dan perubahan konfigurasi pada firewall.
Guideline ini adalah guideline standard tentang keamanan firewall yang sangat direkomendasikan untuk dilaksanakan dalam menjaga dan melindungi system infrastructure jaringan dalam organisasi anda.

Ø           Jenis-jenis Firewall

Taksonomi Firewall
Firewall terbagi menjadi dua jenis, yakni sebagai berikut
·        Personal Firewall: Personal Firewall didesain untuk melindungi sebuah komputer yang terhubung ke jaringan dari akses yang tidak dikehendaki. Firewall jenis ini akhir-akhir ini berevolusi menjadi sebuah kumpulan program yang bertujuan untuk mengamankan komputer secara total, dengan ditambahkannya beberapa fitur pengaman tambahan semacam perangkat proteksi terhadap virus, anti-spyware, anti-spam, dan lainnya. Bahkan beberapa produk firewall lainnya dilengkapi dengan fungsi pendeteksian gangguan keamanan jaringan (Intrusion Detection System). Contoh dari firewall jenis ini adalah Microsoft Windows Firewall (yang telah terintegrasi dalam sistem operasi Windows XP Service Pack 2, Windows Vista dan Windows Server 2003 Service Pack 1), Symantec Norton Personal Firewall, Kerio Personal Firewall, dan lain-lain. Personal Firewall secara umum hanya memiliki dua fitur utama, yakni Packet Filter Firewall dan Stateful Firewall.
·        Network Firewall: Network ‘‘’’Firewall didesain untuk melindungi jaringan secara keseluruhan dari berbagai serangan. Umumnya dijumpai dalam dua bentuk, yakni sebuah perangkat terdedikasi atau sebagai sebuah perangkat lunak yang diinstalasikan dalam sebuah server. Contoh dari firewall ini adalah Microsoft Internet Security and Acceleration Server (ISA Server), Cisco PIX, Cisco ASA, IPTables dalam sistem operasi GNU/Linux, pf dalam keluarga sistem operasi Unix BSD, serta SunScreen dari Sun Microsystems, Inc. yang dibundel dalam sistem operasi Solaris. Network Firewall secara umum memiliki beberapa fitur utama, yakni apa yang dimiliki oleh personal firewall (packet filter firewall dan stateful firewall), Circuit Level Gateway, Application Level Gateway, dan juga NAT Firewall. Network Firewall umumnya bersifat transparan (tidak terlihat) dari pengguna dan menggunakan teknologi routing untuk menentukan paket mana yang diizinkan, dan mana paket yang akan ditolak.

ü       Fungsi Firewall

Secara fundamental, firewall dapat melakukan hal-hal berikut:
·      Mengatur dan mengontrol lalu lintas jaringan
·      Melakukan autentikasi terhadap akses
·      Melindungi sumber daya dalam jaringan privat
·      Mencatat semua kejadian, dan melaporkan kepada administrator

Ø           Mengatur dan Mengontrol Lalu lintas jaringan

Fungsi pertama yang dapat dilakukan oleh firewall adalah firewall harus dapat mengatur dan mengontrol lalu lintas jaringan yang diizinkan untuk mengakses jaringan privat atau komputer yang dilindungi oleh firewall. Firewall melakukan hal yang demikian, dengan melakukan inspeksi terhadap paket-paket dan memantau koneksi yang sedang dibuat, lalu melakukan penapisan (filtering) terhadap koneksi berdasarkan hasil inspeksi paket dan koneksi tersebut.

ü      Proses inspeksi Paket

Inspeksi paket ('packet inspection) merupakan proses yang dilakukan oleh firewall untuk 'menghadang' dan memproses data dalam sebuah paket untuk menentukan bahwa paket tersebut diizinkan atau ditolak, berdasarkan kebijakan akses (access policy) yang diterapkan oleh seorang administrator. Firewall, sebelum menentukan keputusan apakah hendak menolak atau menerima komunikasi dari luar, ia harus melakukan inspeksi terhadap setiap paket (baik yang masuk ataupun yang keluar) di setiap antarmuka dan membandingkannya dengan daftar kebijakan akses. Inspeksi paket dapat dilakukan dengan melihat elemen-elemen berikut, ketika menentukan apakah hendak menolak atau menerima komunikasi:
·      Alamat IP dari komputer sumber
·      Port sumber pada komputer sumber
·      Alamat IP dari komputer tujuan
·      Port tujuan data pada komputer tujuan
·      Protokol IP
·      Informasi header-header yang disimpan dalam paket

ü      Koneksi dan Keadaan Koneksi

Agar dua host TCP/IP dapat saling berkomunikasi, mereka harus saling membuat koneksi antara satu dengan lainnya. Koneksi ini memiliki dua tujuan:
1.    Komputer dapat menggunakan koneksi tersebut untuk mengidentifikasikan dirinya kepada komputer lain, yang meyakinkan bahwa sistem lain yang tidak membuat koneksi tidak dapat mengirimkan data ke komputer tersebut. Firewall juga dapat menggunakan informasi koneksi untuk menentukan koneksi apa yang diizinkan oleh kebijakan akses dan menggunakannya untuk menentukan apakah paket data tersebut akan diterima atau ditolak.
2.    Koneksi digunakan untuk menentukan bagaimana cara dua host tersebut akan berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya (apakah dengan menggunakan koneksi connection-oriented, atau connectionless).
Ilustrasi mengenai percakapan antara dua buah host
Kedua tujuan tersebut dapat digunakan untuk menentukan keadaan koneksi antara dua host tersebut, seperti halnya cara manusia bercakap-cakap. Jika Amir bertanya kepada Aminah mengenai sesuatu, maka Aminah akan meresponsnya dengan jawaban yang sesuai dengan pertanyaan yang diajukan oleh Amir; Pada saat Amir melontarkan pertanyaannya kepada Aminah, keadaan percakapan tersebut adalah Amir menunggu respons dari Aminah. Komunikasi di jaringan juga mengikuti cara yang sama untuk memantau keadaan percakapan komunikasi yang terjadi.
Firewall dapat memantau informasi keadaan koneksi untuk menentukan apakah ia hendak mengizinkan lalu lintas jaringan. Umumnya hal ini dilakukan dengan memelihara sebuah tabel keadaan koneksi (dalam istilah firewall: state table) yang memantau keadaan semua komunikasi yang melewati firewall. Dengan memantau keadaan koneksi ini, firewall dapat menentukan apakah data yang melewati firewall sedang "ditunggu" oleh host yang dituju, dan jika ya, aka mengizinkannya. Jika data yang melewati firewall tidak cocok dengan keadaan koneksi yang didefinisikan oleh tabel keadaan koneksi, maka data tersebut akan ditolak. Hal ini umumnya disebut sebagai Stateful Inspection.

ü      Stateful Packet Inspection

Ketika sebuah firewall menggabungkan stateful inspection dengan packet inspection, maka firewall tersebut dinamakan dengan Stateful Packet Inspection (SPI). SPI merupakan proses inspeksi paket yang tidak dilakukan dengan menggunakan struktur paket dan data yang terkandung dalam paket, tapi juga pada keadaan apa host-host yang saling berkomunikasi tersebut berada. SPI mengizinkan firewall untuk melakukan penapisan tidak hanya berdasarkan isi paket tersebut, tapi juga berdasarkan koneksi atau keadaan koneksi, sehingga dapat mengakibatkan firewall memiliki kemampuan yang lebih fleksibel, mudah diatur, dan memiliki skalabilitas dalam hal penapisan yang tinggi.
Salah satu keunggulan dari SPI dibandingkan dengan inspeksi paket biasa adalah bahwa ketika sebuah koneksi telah dikenali dan diizinkan (tentu saja setelah dilakukan inspeksi), umumnya sebuah kebijakan (policy) tidak dibutuhkan untuk mengizinkan komunikasi balasan karena firewall tahu respons apa yang diharapkan akan diterima. Hal ini memungkinkan inspeksi terhadap data dan perintah yang terkandung dalam sebuah paket data untuk menentukan apakah sebuah koneksi diizinkan atau tidak, lalu firewall akan secara otomatis memantau keadaan percakapan dan secara dinamis mengizinkan lalu lintas yang sesuai dengan keadaan. Ini merupakan peningkatan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan firewall dengan inspeksi paket biasa. Apalagi, proses ini diselesaikan tanpa adanya kebutuhan untuk mendefinisikan sebuah kebijakan untuk mengizinkan respons dan komunikasi selanjutnya. Kebanyakan firewall modern telah mendukung fungsi ini.

ü      Melakukan autentikasi terhadap akses

Fungsi fundamental firewall yang kedua adalah firewall dapat melakukan autentikasi terhadap akses.
Protokol TCP/IP dibangun dengan premis bahwa protokol tersebut mendukung komunikasi yang terbuka. Jika dua host saling mengetahui alamat IP satu sama lainnya, maka mereka diizinkan untuk saling berkomunikasi. Pada awal-awal perkembangan Internet, hal ini boleh dianggap sebagai suatu berkah. Tapi saat ini, di saat semakin banyak yang terhubung ke Internet, mungkin kita tidak mau siapa saja yang dapat berkomunikasi dengan sistem yang kita miliki. Karenanya, firewall dilengkapi dengan fungsi autentikasi dengan menggunakan beberapa mekanisme autentikasi, sebagai berikut:
·      Firewall dapat meminta input dari pengguna mengenai nama pengguna (user name) serta kata kunci (password). Metode ini sering disebut sebagai extended authentication atau xauth. Menggunakan xauth pengguna yang mencoba untuk membuat sebuah koneksi akan diminta input mengenai nama dan kata kuncinya sebelum akhirnya diizinkan oleh firewall. Umumnya, setelah koneksi diizinkan oleh kebijakan keamanan dalam firewall, firewall pun tidak perlu lagi mengisikan input password dan namanya, kecuali jika koneksi terputus dan pengguna mencoba menghubungkan dirinya kembali.
·      Metode kedua adalah dengan menggunakan sertifikat digital dan kunci publik. Keunggulan metode ini dibandingkan dengan metode pertama adalah proses autentikasi dapat terjadi tanpa intervensi pengguna. Selain itu, metode ini lebih cepat dalam rangka melakukan proses autentikasi. Meskipun demikian, metode ini lebih rumit implementasinya karena membutuhkan banyak komponen seperti halnya implementasi infrastruktur kunci publik.
·      Metode selanjutnya adalah dengan menggunakan Pre-Shared Key (PSK) atau kunci yang telah diberitahu kepada pengguna. Jika dibandingkan dengan sertifikat digital, PSK lebih mudah diimplenentasikan karena lebih sederhana, tetapi PSK juga mengizinkan proses autentikasi terjadi tanpa intervensi pengguna. Dengan menggunakan PSK, setiap host akan diberikan sebuah kunci yang telah ditentukan sebelumnya yang kemudian digunakan untuk proses autentikasi. Kelemahan metode ini adalah kunci PSK jarang sekali diperbarui dan banyak organisasi sering sekali menggunakan kunci yang sama untuk melakukan koneksi terhadap host-host yang berada pada jarak jauh, sehingga hal ini sama saja meruntuhkan proses autentikasi. Agar tercapai sebuah derajat keamanan yang tinggi, umumnya beberapa organisasi juga menggunakan gabungan antara metode PSK dengan xauth atau PSK dengan sertifikat digital.
Dengan mengimplementasikan proses autentikasi, firewall dapat menjamin bahwa koneksi dapat diizinkan atau tidak. Meskipun jika paket telah diizinkan dengan menggunakan inspeksi paket (PI) atau berdasarkan keadaan koneksi (SPI), jika host tersebut tidak lolos proses autentikasi, paket tersebut akan dibuang.

Ø           Melindungi sumber daya dalam jaringan privat

Salah satu tugas firewall adalah melindungi sumber daya dari ancaman yang mungkin datang. Proteksi ini dapat diperoleh dengan menggunakan beberapa peraturan pengaturan akses (access control), penggunaan SPI, application proxy, atau kombinasi dari semuanya untuk mencegah host yang dilindungi dapat diakses oleh host-host yang mencurigakan atau dari lalu lintas jaringan yang mencurigakan. Meskipun demikian, firewall bukanlah satu-satunya metode proteksi terhadap sumber daya, dan mempercayakan proteksi terhadap sumber daya dari ancaman terhadap firewall secara eksklusif adalah salah satu kesalahan fatal. Jika sebuah host yang menjalankan sistem operasi tertentu yang memiliki lubang keamanan yang belum ditambal dikoneksikan ke Internet, firewall mungkin tidak dapat mencegah dieksploitasinya host tersebut oleh host-host lainnya, khususnya jika exploit tersebut menggunakan lalu lintas yang oleh firewall telah diizinkan (dalam konfigurasinya). Sebagai contoh, jika sebuah packet-inspection firewall mengizinkan lalu lintas HTTP ke sebuah web server yang menjalankan sebuah layanan web yang memiliki lubang keamanan yang belum ditambal, maka seorang pengguna yang "iseng" dapat saja membuat exploit untuk meruntuhkan web server tersebut karena memang web server yang bersangkutan memiliki lubang keamanan yang belum ditambal. Dalam contoh ini, web server tersebut akhirnya mengakibatkan proteksi yang ditawarkan oleh firewall menjadi tidak berguna. Hal ini disebabkan oleh firewall yang tidak dapat membedakan antara request HTTP yang mencurigakan atau tidak. Apalagi, jika firewall yang digunakan bukan application proxy. Oleh karena itulah, sumber daya yang dilindungi haruslah dipelihara dengan melakukan penambalan terhadap lubang-lubang keamanan, selain tentunya dilindungi oleh firewall.

Ø           Mencatat semua kejadian, dan melaporkan kepada administrator

ü      Cara Kerja Firewall

Ø           Packet-Filter Firewall

Contoh pengaturan akses (access control) yang diterapkan dalam firewall
Pada bentuknya yang paling sederhana, sebuah firewall adalah sebuah router atau komputer yang dilengkapi dengan dua buah NIC (Network Interface Card, kartu antarmuka jaringan) yang mampu melakukan penapisan atau penyaringan terhadap paket-paket yang masuk. Perangkat jenis ini umumnya disebut dengan packet-filtering router.
Firewall jenis ini bekerja dengan cara membandingkan alamat sumber dari paket-paket tersebut dengan kebijakan pengontrolan akses yang terdaftar dalam Access Control List firewall, router tersebut akan mencoba memutuskan apakah hendak meneruskan paket yang masuk tersebut ke tujuannya atau menghentikannya. Pada bentuk yang lebih sederhana lagi, firewall hanya melakukan pengujian terhadap alamat IP atau nama domain yang menjadi sumber paket dan akan menentukan apakah hendak meneruskan atau menolak paket tersebut. Meskipun demikian, packet-filtering router tidak dapat digunakan untuk memberikan akses (atau menolaknya) dengan menggunakan basis hak-hak yang dimiliki oleh pengguna.
Cara kerja packet filter firewall
Packet-filtering router juga dapat dikonfigurasikan agar menghentikan beberapa jenis lalu lintas jaringan dan tentu saja mengizinkannya. Umumnya, hal ini dilakukan dengan mengaktifkan/menonaktifkan port TCP/IP dalam sistem firewall tersebut. Sebagai contoh, port 25 yang digunakan oleh Protokol SMTP (Simple Mail Transfer Protocol) umumnya dibiarkan terbuka oleh beberapa firewall untuk mengizinkan surat elektronik dari Internet masuk ke dalam jaringan privat, sementara port lainnya seperti port 23 yang digunakan oleh Protokol Telnet dapat dinonaktifkan untuk mencegah pengguna Internet untuk mengakses layanan yang terdapat dalam jaringan privat tersebut. Firewall juga dapat memberikan semacam pengecualian (exception) agar beberapa aplikasi dapat melewati firewall tersebut. Dengan menggunakan pendekatan ini, keamanan akan lebih kuat tapi memiliki kelemahan yang signifikan yakni kerumitan konfigurasi terhadap firewall: daftar Access Control List firewall akan membesar seiring dengan banyaknya alamat IP, nama domain, atau port yang dimasukkan ke dalamnya, selain tentunya juga exception yang diberlakukan.

Ø           Circuit Level Gateway

Cara kerja circuit level firewall
Firewall jenis lainnya adalah Circuit-Level Gateway, yang umumnya berupa komponen dalam sebuah proxy server. Firewall jenis ini beroperasi pada level yang lebih tinggi dalam model referensi tujuh lapis OSI (bekerja pada lapisan sesi/session layer) daripada Packet Filter Firewall. Modifikasi ini membuat firewall jenis ini berguna dalam rangka menyembunyikan informasi mengenai jaringan terproteksi, meskipun firewall ini tidak melakukan penyaringan terhadap paket-paket individual yang mengalir dalam koneksi.
Dengan menggunakan firewall jenis ini, koneksi yang terjadi antara pengguna dan jaringan pun disembunyikan dari pengguna. Pengguna akan dihadapkan secara langsung dengan firewall pada saat proses pembuatan koneksi dan firewall pun akan membentuk koneksi dengan sumber daya jaringan yang hendak diakses oleh pengguna setelah mengubah alamat IP dari paket yang ditransmisikan oleh dua belah pihak. Hal ini mengakibatkan terjadinya sebuah sirkuit virtual (virtual circuit) antara pengguna dan sumber daya jaringan yang ia akses.
Firewall ini dianggap lebih aman dibandingkan dengan Packet-Filtering Firewall, karena pengguna eksternal tidak dapat melihat alamat IP jaringan internal dalam paket-paket yang ia terima, melainkan alamat IP dari firewall. Protokol yang populer digunakan sebagai Circuit-Level Gateway adalah SOCKS v5.

Ø           Application Level Firewall

Application Level Firewall (disebut juga sebagai application proxy atau application level gateway)
Firewall jenis lainnya adalah Application Level Gateway (atau Application-Level Firewall atau sering juga disebut sebagai Proxy Firewall), yang umumnya juga merupakan komponen dari sebuah proxy server. Firewall ini tidak mengizinkan paket yang datang untuk melewati firewall secara langsung. Tetapi, aplikasi proxy yang berjalan dalam komputer yang menjalankan firewall akan meneruskan permintaan tersebut kepada layanan yang tersedia dalam jaringan privat dan kemudian meneruskan respons dari permintaan tersebut kepada komputer yang membuat permintaan pertama kali yang terletak dalam jaringan publik yang tidak aman.
Umumnya, firewall jenis ini akan melakukan autentikasi terlebih dahulu terhadap pengguna sebelum mengizinkan pengguna tersebut untuk mengakses jaringan. Selain itu, firewall ini juga mengimplementasikan mekanisme auditing dan pencatatan (logging) sebagai bagian dari kebijakan keamanan yang diterapkannya. Application Level Firewall juga umumnya mengharuskan beberapa konfigurasi yang diberlakukan pada pengguna untuk mengizinkan mesin klien agar dapat berfungsi. Sebagai contoh, jika sebuah proxy FTP dikonfigurasikan di atas sebuah application layer gateway, proxy tersebut dapat dikonfigurasikan untuk mengizinlan beberapa perintah FTP, dan menolak beberapa perintah lainnya. Jenis ini paling sering diimplementasikan pada proxy SMTP sehingga mereka dapat menerima surat elektronik dari luar (tanpa menampakkan alamat e-mail internal), lalu meneruskan e-mail tersebut kepada e-mail server dalam jaringan. Tetapi, karena adanya pemrosesan yang lebih rumit, firewall jenis ini mengharuskan komputer yang dikonfigurasikan sebagai application gateway memiliki spesifikasi yang tinggi, dan tentu saja jauh lebih lambat dibandingkan dengan packet-filter firewall.

ü      NAT Firewall

NAT (Network Address Translation) Firewall secara otomatis menyediakan proteksi terhadap sistem yang berada di balik firewall karena NAT Firewall hanya mengizinkan koneksi yang datang dari komputer-komputer yang berada di balik firewall. Tujuan dari NAT adalah untuk melakukan multiplexing terhadap lalu lintas dari jaringan internal untuk kemudian menyampaikannya kepada jaringan yang lebih luas (MAN, WAN atau Internet) seolah-olah paket tersebut datang dari sebuah alamat IP atau beberapa alamat IP. NAT Firewall membuat tabel dalam memori yang mengandung informasi mengenai koneksi yang dilihat oleh firewall. Tabel ini akan memetakan alamat jaringan internal ke alamat eksternal. Kemampuan untuk menaruh keseluruhan jaringan di belakang sebuah alamat IP didasarkan terhadap pemetaan terhadap port-port dalam NAT firewall.

Ø           Stateful Firewall

Cara kerja stateful firewall
Stateful Firewall merupakan sebuah firewall yang menggabungkan keunggulan yang ditawarkan oleh packet-filtering firewall, NAT Firewall, Circuit-Level Firewall dan Proxy Firewall dalam satu sistem. Stateful Firewall dapat melakukan filtering terhadap lalu lintas berdasarkan karakteristik paket, seperti halnya packet-filtering firewall, dan juga memiliki pengecekan terhadap sesi koneksi untuk meyakinkan bahwa sesi koneksi yang terbentuk tersebut diizinlan. Tidak seperti Proxy Firewall atau Circuit Level Firewall, Stateful Firewall umumnya didesain agar lebih transparan (seperti halnya packet-filtering firewall atau NAT firewall). Tetapi, stateful firewall juga mencakup beberapa aspek yang dimiliki oleh application level firewall, sebab ia juga melakukan inspeksi terhadap data yang datang dari lapisan aplikasi (application layer) dengan menggunakan layanan tertentu. Firewall ini hanya tersedia pada beberapa firewall kelas atas, semacam Cisco PIX. Karena menggabungkan keunggulan jenis-jenis firewall lainnya, stateful firewall menjadi lebih kompleks.

Ø           Virtual Firewall

Virtual Firewall adalah sebutan untuk beberapa firewall logis yang berada dalam sebuah perangkat fisik (komputer atau perangkat firewall lainnya). Pengaturan ini mengizinkan beberapa jaringan agar dapat diproteksi oleh sebuah firewall yang unik yang menjalankan kebijakan keamanan yang juga unik, cukup dengan menggunakan satu buah perangkat. Dengan menggunakan firewall jenis ini, sebuah ISP (Internet Service Provider) dapat menyediakan layanan firewall kepada para pelanggannya, sehingga mengamankan lalu lintas jaringan mereka, hanya dengan menggunakan satu buah perangkat. Hal ini jelas merupakan penghematan biaya yang signifikan, meski firewall jenis ini hanya tersedia pada firewall kelas atas, seperti Cisco PIX 535.

Ø           Transparent Firewall

Transparent Firewall (juga dikenal sebagai bridging firewall) bukanlah sebuah firewall yang murni, tetapi ia hanya berupa turunan dari stateful Firewall. Daripada firewall-firewall lainnya yang beroperasi pada lapisan IP ke atas, transparent firewall bekerja pada lapisan Data-Link Layer, dan kemudian ia memantau lapisan-lapisan yang ada di atasnya. Selain itu, transparent firewall juga dapat melakukan apa yang dapat dilakukan oleh packet-filtering firewall, seperti halnya stateful firewall dan tidak terlihat oleh pengguna (karena itulah, ia disebut sebagai Transparent Firewall).
Intinya, transparent firewall bekerja sebagai sebuah bridge yang bertugas untuk menyaring lalu lintas jaringan antara dua segmen jaringan. Dengan menggunakan transparent firewall, keamanan sebuah segmen jaringan pun dapat diperkuat, tanpa harus mengaplikasikan NAT Filter. Transparent Firewall menawarkan tiga buah keuntungan, yakni sebagai berikut:
·      Konfigurasi yang mudah (bahkan beberapa produk mengklaim sebagai "Zero Configuration"). Hal ini memang karena transparent firewall dihubungkan secara langsung dengan jaringan yang hendak diproteksinya, dengan memodifikasi sedikit atau tanpa memodifikasi konfigurasi firewall tersebut. Karena ia bekerja pada data-link layer, pengubahan alamat IP pun tidak dibutuhkan. Firewall juga dapat dikonfigurasikan untuk melakukan segmentasi terhadap sebuah subnet jaringan antara jaringan yang memiliki keamanan yang rendah dan keamanan yang tinggi atau dapat juga untuk melindungi sebuah host, jika memang diperlukan.
·      Kinerja yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh firewall yang berjalan dalam lapisan data-link lebih sederhana dibandingkan dengan firewall yang berjalan dalam lapisan yang lebih tinggi. Karena bekerja lebih sederhana, maka kebutuhan pemrosesan pun lebih kecil dibandingkan dengan firewall yang berjalan pada lapisan yang tinggi, dan akhirnya performa yang ditunjukannya pun lebih tinggi.
·      Tidak terlihat oleh pengguna (stealth). Hal ini memang dikarenakan Transparent Firewall bekerja pada lapisan data-link, dan tidak membutuhkan alamat IP yang ditetapkan untuknya (kecuali untuk melakukan manajemen terhadapnya, jika memang jenisnya managed firewall). Karena itulah, transparent firewall tidak dapat terlihat oleh para penyerang. Karena tidak dapat diraih oleh penyerang (tidak memiliki alamat IP), penyerang pun tidak dapat menyerangnya.
II.            Contoh Kasus Permasalahan Pada Jaringan LAPAN Pusat

IP Adders adalah identitas satu komputer dalam jaring computer / internet, seperti halnya rumah kita memupnyai nomer rumah yang tertempel pada dinding. Penulisan IP Adders terbagi 4 kelompok 8 bit yang dituliskan dalam bilangan biner. Dimana setiap kelompok dalam IP Adders dipisahkan oleh titik (Dot). Nilai terbesar dari bilangan biner 8 bit adalah 255. Oleh karena itu jumlah IP Adders yang tersedia ialah 255.255.255.255 IP Adders yang sebanyak ini harus dibagi bagikan keseluruh pengguna jaringan komputer / internet di seluruh dunia.
LAPAN terkoneksi dengan ‘dunia’ internet tahun1986 mendapat nomor IP yang cukup banyak. Sekitar satu subnet Mask IP yang dipakai pada jaringan Local Area Network (LAN) LAPAN Pusat. Masing-masing client menggunakan penomoran IP address publik agar dapat tekoneksi dengan internet. Ada sekitar 254 hosts  atau client yang dapat terkoneksi. Kondisi jaringan yang seperti gambar 2.1 ini sangat tidak efektif dan efisien dalam pengelolaan dan pemeliharaan (maintanance) jaringan oleh administrator jaringan. Terkait dengan kondisi diatas ada beberapa hal yang pernah antara lain:
1)      Serangan virus terhadap server web. Open Network yang digunakan pada jaringan LAPAN Pusat sangat beresiko terhadap serangan hacker yang berpotensi merusak operating system (OS) dan aplikasi yang terinstall didalam server.
2)      Penggunan nomor IP pada jaringan LAN dengan IP Publik untuk masing-masing client berdampak negatif terhadap setiap client yang terhubung dengan LAN tersebut. Client mudah terserang virus Adware, Browser hijacker, dan Spyware. Komputer yang terinfeksi virus tersebut akan mengirim informasi yang ada pada setiap komputer client dan akan mudah diakses oleh pihak lain melalui internet
3)      Kesulitan dalam pengelolaan dan pemeliharaan jaringan. Sering terjadi penggunaan ip yang sama pada client, sehingga client tersebut tidak dapat terkoneksi internet.
4)      Banyaknya penggunaan IP Publik yang dipakai pada client mempersulit administrator jaringan dalam pengelolaan jaringan LAN yang lebih besar yaitu Wide Are Network (WAN).
 
                     



















III.            Analisa dan Pemecahannya
3.1.      Firewall
Ada beberapa definisi yang dapat menggambarkan fungsi dari firewall, antara lain :
·        A firewall is a system or group system that enforce an access control policy between two network (http://www.clark.net/pub/mjr/pubs/fwfaql)
·        The main purpose of firewall ystem is to control access to or from a protected network. It implements a network access policy by forcing connections to pass through the firewall, where they can be examined and evaluated (http://www.csrc.ncsl.nist.gov/initpubs/800-10/node31.html)
Dari definisi diatas terlihat bahwa fungsi utama dari filewall adalah sistem yang mengatur layanan jaringan dari dan ke mana, melakukan apa, siapa saja yang diperbolehkan, kapan dan berapa besar/banyak traffic atau lalulintas yang melalui firewall tersebut.
Firewall dirancang untuk menjaga sistem komputer dari askses pihak luar yang tidak berhak. Firewall dapat diimplementasikan dalam hardware, software atau gabungan keduanya. Firewall banyak digunakan untuk menjaga pengguna pengguna internet yang tidak berhak mengakses jaringan privat yang terhubung internet, khususnya intranet.

à    Firewall dari sisi Software
Suatu jaringan dengan koneksi intranet yang sekaligus dapat membolehkan akses internet biasanya menginstall firewall untuk menjaga sumber daya data dari akses pihak luar dan mengontrol sumber daya luar (internet) yang dapat diakses dari dalam (oleh karyawan). Semua pesan yang masuk dan keluar intranet melewati firewall yang akan memeriksa apakah setiap pesan tidak sesuai dengan kriteria keamanan sistem. Ada beberapa teknik software yang dipakai sebagai firewall:
·        Packet filter. Dengan teknik ini setiap paket yang masuk dan keluar jaringan akan diterima atau ditolak berdasarkan aturan yang telah dibuat sebelumnya. Penyaringan paket ini cukup efektif dan transparan tetapi sulit untuk menkonfirgurasinya.
·        Application gateway. Teknik ini mengaplikasikan mekanisme keamanan untuk aplikasi khusus, sperti FTP dan Telnet server. Teknik ini sangat efektif tetapi dapat menyebabkan penurunan kinerja.
·        Proxy server. Teknik ini menagkap semua pesan yang keluar dan masuk jaringan. Proxy server menyembunyikan alamat jaringan sebenarnya.
Dalam praktek firewall diimplementasikan menggunakan beberapa teknik sekaligus.

3.2    Firewall dari sisi Hardware
Selain firewall yang dibangun secara software, ada beberapa firewall yang bersifat plug and play. Firewall ini pada umumnya berupa hardware yang relatif lebih mudah untuk dikonfigurasi dalam penggunaannya sesuai kebutuhan. Firewall jenis ini dapat dikonfigurasi menjadi 3 zone batas pemisahan pengamanan:
·        De-militarised Zone (DMZ). Digunakan untuk melindungi system internal yang berhubungan dengan serangan hack (hacker attack). Secara umum DMZ dibangun berdasarkan tiga buah konsep, yaitu NAT (Network Address Translation), PAT (Port Addressable Translation), dan Access List.
·        Inside Zone. Zone ini digunakan untuk melindungi server-server dan memisahkan jaringan client dan server dari akses internal (back door attack) terhadap server.
·        Outside Zone. Ini adalah zone terluar dimana berhadapan langsung dengan ‘dunia’ internet. Biasanya perangkat jaringan yang berada disisi ini adalah modem dan router.
Seperti telah dikemukakan bahwa konsep dasar dari firewall adalah penggunaan NAT, PAT dan Access List. NAT berfungsi untuk menunjukan kembali paket-paket yang datang dari “real address” / IP Publik ke alamat internal, misalnya LAPAN memiliki “real address” 141.103.2.1 pada zone outside maka dalam bentuk NAT langsung data-data yang datang ke 192.168.1.1 untuk zone DMZ dan 10.10.10.1 untuk zone inside. Kemudian PAT berfungsi untuk menunjukan data yang datang pada particular port atau range sebuah port  ke sebuah alamat internal IP. Sedangkan Access List berfungsi untuk mengontrol secara tepat apa yang datang dan keluar dari jaringan dalam suatu pertanyaan. Misalnya menolak atau memperbolehkan semua (Internet Control Message Protocol-ICMP) yang datang keseluruh alamat IP kecuali untuk sebuah ICMP yang tidak diinginkan.
Rancangan konfigurasi firewall yang sekarang diimplementasikan pada jaringan LAN di LAPAN Pusat adalah dengan menggunakan firewall jenis hardware yaitu Cisco Firewall PIX 515 E. Konfigurasi ini membawa dampak yang positif pada sisi pengelolaan IP jaringan baik pada sisi server maupun client. Sebelum rancangan ini dibuat, seluruh konfigurasi IP jaringan LAN LAPAN Pusat menggunakan IP Publik (gambar 2). Sifat open network  yang demikian mengandung resiko yang besar terhadap serangan hacker (hacker attack), spyware, adware dan serangan trojan yang mengancam kerusakan sistem dan data yang ada pada server-server maupun client yang terhubung dengan internet. Untuk mengantisipasi serangan tersebut Pusat Analisis dan Informasi Kedirgantaraan melalui Bidang Pengembangan Informasi Kedirgantaraan melakukan analisan dan merancang sistem firewall yang dibangun secara hardware. Sistem ini dipilih karena memiliki kemudahan dan kelebihan pada customize setting yang dapat disesuaikan dengan perubahan arsitektur jaringan dimasa datang. Kelebihan ini tentunya harus ‘dibayar’ mahal jika dibandingkan dengan firewall yang dibangun hanya secara software. Gambar 3.3.a adalah perangkat firewall Cisco PIX 515 E yang telah diuji coba penggunaannya pada jaringan LAN LAPAN Pusat.
 



Gambar 3.3.a

Gambar 3-3a: perangkat firewall Cisco
Firewall Cisco PIX 515 E secara default memiliki dua kartu ethernet card yang digunakan untuk inside zone dan outside zone. Untuk membangun zone DMZ diperlukan satu kartu ethernet tambahan. Zone DMZ digunakan untuk melindungi  sistem internal terutama server-server dari serangan hacker.  Ethernet card untuk zone inside ditandai dengan ethernet 0, zone outside ditandai dengan ethetnet 1 dan untuk zone DMZ diberikan pengenal ethetnet 2.

Berikut adalah tabel translasi IP yang digunakan pada firewall Cisco PIX 515 E:
Real IP Address
Gateway
Netmask
Interface
Zone
141.103.2.1
192.168.1.1
255.255.255.0
Ehernet 2
DMZ
141.103.2.2
255.255.0.0
Ethernet 1
Outside
10.10.10.1
255.255.255.0
Ethernet 0
Inside

Rancangan konfigurasi LAN yang dipakai dengan menggunakan firewall Cisco PIX 515 E pada sistem jaringan komputer LAPAN Pusat terlihat pada gambar 3.3.b.  Output dari Cisco PIX  515 E dihubungkan pada hub VLAN. Hub ini berfungsi sebagai pembagi dan sekaligus sebagai penghubung perangkat-perangkat lain dengan firewall sesuai dengan pembagian zone yang telah direncanakan.
 











Gambar 3-3b: sistem jaringan komputer LAPAN Pusat
Terlihat jelas bahwa kini struktur IP yang digunakan lebih terorganisir dan tertata rapi sesuai dengan zone yang digunakan. Zone DMZ kini lebih secure dari serangan hacker baik dari luar (internet) maupun serangan yang bersifat backdoor (user attack). Zone Inside (client) kini menggunakan IP internal sehingga tidak mengganggu keamanan baik dari sisi client maupun server. Semua ini karena ada sistem NAT yang merupakan salah satu fungsi dari firewall.




IV.            Kesimpulan
IP adalah protokol di internet atau jaringan yang menangani masalah pengalamatan dan pengaturan pengiriman paket data sehingga ia sampai ke alamat yang benar. Setiap komputer yang terkoneksi ke jaringan atau internet harus memiliki alamat yang unik yaitu IP.  Satu IP hanya boleh dimiliki oleh satu komputer. Untuk melindungi server dan client yang terhubung dengan jaringan internet dari ‘serangan’ orang luar bisa ditempuh dengan jalan memasang firewall baik berbentuk software maupun hardware.
Pusat Analisis dan Informasi Kedirgantaraan melalui bidang Pengembangan Informasi Kedirgantaraan telah merancang penggunaan firewall secara hardware untuk melindungi sistem jaringan komputernya di LAPAN Pusat.  Firewall adalah salah satu sistem keamanan jaringan yang dipakai untuk melindungi jaringan komputer dari serangan luar tetapi yang perlu diperhatikan bahwa secanggih apapun teknologi keamanan jaringan yang dipakai kalau tidak didukung oleh kemampuan sumber daya manusianya hasil tidak optimal. Tetapi paling tidak program firewall akan menghambat craker dan hacker menembus suatu sistem jaringan.
Firewall atau tembok-api adalah sebuah sistem atau perangkat yang mengizinkan lalu lintas jaringan yang dianggap aman untuk melaluinya dan mencegah lalu lintas jaringan yang tidak aman. Umumnya, sebuah tembok-api diterapkan dalam sebuah mesin terdedikasi, yang berjalan pada pintu gerbang (gateway) antara jaringan lokal dan jaringan lainnya. Tembok-api umumnya juga digunakan untuk mengontrol akses terhadap siapa saja yang memiliki akses terhadap jaringan pribadi dari pihak luar. Saat ini, istilah firewall menjadi istilah lazim yang merujuk pada sistem yang mengatur komunikasi antar dua jaringan yang berbeda. Mengingat saat ini banyak perusahaan yang memiliki akses ke Internet dan juga tentu saja jaringan berbadan hukum di dalamnya, maka perlindungan terhadap modal digital perusahaan tersebut dari serangan para peretas, pemata-mata, ataupun pencuri data lainnya, menjadi hakikat.




Daftar Pustaka

Buku panduan instalasi Firewall Cisco PIX 515 E, Mei 2003
Indocisc, Security Tools Untuk Pengamanan, April 2004

Buku Pintar Internet TCP/IP oleh Onno W Prabowo, Adnan asamalah, Ismail Fahmi, dan            Ahkmad Husni Thamrin ; Elex Media Komputindo Jakarta 2003

http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=UgMGUQsIBFRV
http://retiasa.wordpress.com/2008/04/01/sistem-keamanan-jaringan-komputer/
http://www.te.ugm.ac.id/~josh/seminar/Keamanan%20Sistem%20Jaringan%20Komputer.pdf





0 komentar:

Posting Komentar

Labels

Tags

Calender

My Friends