WELCOME

Welcome in My Blog semoga berguna buat semuanya

Kamis, 20 Januari 2011

Testing dan Implementasi

Posted by Menulis yuuuuukk..... 15.12, under | No comments


MENGEVALUAI SISTEM PASCA IMPLEMENTASI

v    Proses Evaluasi Sistem
Dalam mengevaluasi sebuah sistem informasi perlu dilakukan peninjauan kembali terhadap:
1.   persyaratan-persyaratan desain secara umum,
2.   sistem perangkat keras/lunak pengganti atau baru, dan
3.   evaluasi/analisis biaya.
Ada tiga kategori untuk persyaratan umum desain sistem, yaitu persyaratan yang melekat pada organisasi, persyaratan fungsional dan persyaratan kesesuaian. Untuk mengevaluasi perangkat komputer yang akan digunakan, ada beberapa standar penilaian yang perlu diperhatikan, yaitu:
1.   modularitas,
2.   compatibilitas,
3.   realibilitas,
4.   kemudahan pemeliharaan, dan
5.   pelayanan purna jual.
Sementara itu untuk pengusulan perangkat komputer yang dibutuhkan, ada tiga alternatif yang dapat ditempuh, yaitu mengajukan usulan komputer dengan kemampuan yang spesifik, mengajukan usulan komputer dengan menentukan jenis dan kebutuhan sistem informasi atau menerima usulan dari sebuah rekanan untuk pengadaan komputer. Analisis atau evaluasi atas biaya yang harus dikeluarkan untuk pengadaan perangkat komputer dalam hal yang paling menentukan dapat tidaknya sebuah sistem informasi diimplementasikan. Biaya pengadaan komputer tersebut dapat dilihat dari jenisnya, perilaku, fungsi dan waktu. Yang tidak kurang pentingnya untuk diperhatikan adalah biaya lain selain biaya di atas yang di antaranya adalah biaya sarana penunjang seperti listrik, AC, dan lain-lain, juga biaya instalasi dan biaya pelatihan.
Ø      Desain Sistem Terperinci
Desain sistem informasi yang terperinci meliputi desain input terperinci dan desain output terperinci. Di dalam desain input, peranan dokumen dasar yang berbentuk formulir memegang peranan penting karena bertindak sebagai penangkap data untuk sistem informasi. Oleh karena itu, untuk merancangnya banyak hal-hal yang harus diperhatikan yang di antaranya adalah pemilihan kertas, ukuran dan warnanya, di samping itu juga berbagai jenis nomor yang harus dicantumkan di dalam dokumen dasar dan juga berbagai jenis caption yang harus dipergunakan sesuai dengan keperluannya. Oleh karena data yang akan dimasukkan ke dalam dokumen dasar begitu banyaknya maka diperlukan cara-cara untuk mengurangi jumlah masukannya yang di antaranya adalah dengan menggunakan kode yang dapat mewakili objek data. Sementara itu di dalam desain input terperinci, penggunaan laporan sebagai hasil dari sistem informasi memegang peranan penting. Tabel dan grafik adalah dua bentuk laporan yang paling banyak digunakan. Dilihat dari kegunaan dan kualitas isinya, tabel terdiri dari empat macam, yaitu notice report, equipoised report, variance report, dan comparative report. Sedangkan grafik yang sering digunakan adalah bagan garis, bagan batang dan bagan pastel yang penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhannya.
Ø      Implementasi Sistem
Langkah-langkah yang harus dilakukan analisis sistem dalam rangka mengimplementasikan sistem adalah:
(1) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan kepada personel, yang dapat dilakukan dengan seminar, pelatihan prosedural, tutorial, simulasi, dan pelatihan langsung
 (2) Menguji sistem, yang dilakukan baik terhadap program maupun terhadap sistemnya dengan cara-cara simulasi logis, data acak, data yang sebenarnya, pengujian produksi, dan pengujian pengawasan
(3) Konversi sistem, yaitu proses perubahan sehubungan dengan pengumpulan, penyimpanan, pemanggilan kembali, pemrosesan dan pelaporan data/informasi, yang jenisnya adalah konversi peralatan, konversi metode pemrosesan data dan konversi prosedural
(4) Implementasi sistem, dan
(5) Tindak lanjut dari implementasi.
Ø      Manajemen Sistem Informasi
Manajemen sistem informasi menggambarkan bagaimana harus mengelola sistem informasi yang telah diimplementasikan. Upaya-upaya manajemen yang dapat dilakukan adalah
(1) kegiatan-kegiatan manajemen umum, yang di antaranya meliputi menetapkan pola induk sistem, penerimaan, pelatihan penempatan pegawai, dan merinci tanggung jawab kerja pegawai,
(2) pengelolaan pemeliharaan sistem, yang disebabkan oleh karena keadaan darurat, rutin, keperluan laporan khusus dan peningkatan sistem,
(3) audit sistem, yaitu memeriksa sistem secara berkala atau tidak berkala yang jenisnya meliputi audit pasca implementasi, audit operasional rutin, audit keuangan dan audit sistem,
(4) mengatasi perubahan individu akibat implementasi sistem, yang membahas mengenai perlunya pendekatan-pendekatan khusus agar supaya individu mau bekerja sama mensukseskan penggunaan sistem informasi, yaitu melalui peningkatan hubungan interpersonal.
v    Persiapan Pelaksanaan Analisis Sistem
Dalam mempersiapkan suatu analisis sistem, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah
(1) menentukan alasan perlunya dilaksanakan analisis sistem,
(2) menentukan cakupan sejauh mana analisis sistem akan dilaksanakan
(3) menyusun proposal untuk pelaksanaan analisis sistem
(4) mengetahui dengan pasti sumber data yang akan dipergunakan
(5) menentukan kerangka atau metode yang akan dipergunakan di dalam pengumpulan data
(6) mengetahui teknik-teknik untuk menganalisis data dan
(7) membuat laporan akhir hasil analisis sistem.

               Pelaksanaan Proyek Sistem Informasi

Pengembangan sebuah sistem informasi dalam sebuah perusahaan dilakukan dengan pendekatan manajemen proyek (project management). Lepas dari berbagai variasi proyek-proyek teknologi informasi yang ada – seperti pembuatan aplikasi, penerapan perangkat lunak, konstruksi infrastruktur jaringan, dan lain sebagainya – metodologi yang dipergunakan secara umum adalah sama. Setidak-tidaknya ada enam buah tahapan yang harus dilalui: perencanaan, analisa, desain, konstruksi, implementasi, dan pasca implementasi. Masing-masing konsultan atau para praktisi teknologi informasi biasanya memiliki variasinya masing-masing yang secara prinsip tidak lepas dari keenam langkah metodologi di atas. Artikel ini membahas apa saja yang harus dilakukan pada masing-masing tahap.

            METODOLOGI GENERIK

Secara umum, proyek-proyek sistem informasi dalam perusahaan atau organisasi dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok besar. Kelompok pertama adalah proyek yang bersifat pembangunan jaringan infrastruktur teknologi informasi, menyangkut hal-hal mulai dari pengadaan dan instalasi komputer secara stand-alone, sampai dengan perencanaan dan pengembangan infrastruktur jaringan LAN (Local Area Network) dan WAN (Wide Area Network). Kelompok kedua adalah berupa implementasi dari paket program aplikasi yang dibeli di pasaran dan diterapkan di perusahaan, mulai dari software kecil seperti produk-produk retail Microsoft sampai dengan aplikasi terintegrasi berbasis ERP, seperti SAP dan BAAN. Kelompok terakhir adalah perencanaan dan pengembangan aplikasi yang dibuat sendiri secara khusus (customized software), baik oleh internal perusahaan maupun dengan bekerja sama dengan pihak luar seperti konsultan dan software house. Lepas dari perbedaan karakteristik yang melatarbelakangi ketiga jenis proyek tersebut, secara garis besar ada enam tahap yang biasa dijadikan sebagai batu pijakan atau metodologi dalam melaksanakan aktivitas pengembangan tersebut.
Sumber: Renaissance Advisors, 1996.

                   TAHAP PERENCANAAN

Tahap pertama adalah perencanaan. Langkah ini merupakan suatu rangkaian kegiatan semenjak ide pertama yang melatarbelakangi pelaksanaan proyek ini didapat, pendefinisian awal terhadap kebutuhan detil atau target yang harus dicapai dari proyek tersebut, penyusunan proposal, penentuan metodologi dan sistem manajemen proyek yang digunakan, sampai dengan penunjukan tim dan instruksi untuk mengeksekusi (memulai) proyek yang bersangkutan. Biasanya ada dua pihak yang terlibat langsung dalam proyek perencanaan ini. Pihak pertama adalah pihak yang membutuhkan (demand side) eksistensi dari suatu sistem informasi, dalam hal ini adalah perusahaan, lembaga, institusi, atau organisasi yang bersangkutan. Pihak kedua adalah pihak yang berusaha menjawab kebutuhan tersebut (supply side) dalam bentuk pengembangan teknologi informasi. Kelompok ini biasanya merupakan gabungan dari para personel yang terkait dengan latar belakang ilmu dan pengetahuan yang beragam (multi disiplin), seperti ahli perangkat lunak, analis bisnis dan manajemen, spesialis perangkat keras, programmer, system analyst, praktisi hukum, manajer proyek, dan beberapa karakteristik SDM lain yang terkait. Dilihat dari segi manajemen proyek sistem informasi, output yang harus dihasilkan oleh tahap perencanaan adalah berupa jadwal detil dari kelima tahapan berikutnya menyangkut masalah waktu, target deliverable, personel yang bertanggung jawab, aspek-aspek keuangan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan utilisasi sumber daya yang dipergunakan dalam proyek. Sebagai tambahan, standar-standar dan prosedur yang akan dipergunakan dalam melakukan pengelolaan proyek pun harus jelas dan disepakati bersama oleh seluruh anggota personel.

                   TAHAP ANALISA

Tahap kedua disebut sebagai tahap analisa. Secara prinsip ada dua aspek yang menjadi fokus analisa, yaitu aspek bisnis atau manajemen, dan aspek teknologi. Analisa aspek bisnis dimulai dengan mempelajari karakteristik dari perusahaan yang bersangkutan, mulai dari aspek-aspek historis, struktur kepemilikan, visi, misi, critical success factors (kunci keberhasilan usaha), performance measurements (ukuran kinerja), strategi, program-program, dan hal terkait lainnya. Tujuan dilakukannya langkah ini adalah:
ü      Mengetahui posisi atau peranan teknologi informasi yang paling sesuai dan relevan di perusahaan (mengingat bahwa setiap perusahaan memiliki pandangan tersendiri dan unik terhadap sumber daya teknologi yang dimiliki, yang membedakannya dengan perusahaan lain); dan
ü      Mempelajari fungsi-fungsi manajemen dan aspek-aspek bisnis terkait yang akan berpengaruh (memiliki dampak tertentu) terhadap proses desain, konstruksi, dan implementasi.
Analisa aspek teknologi meliputi kegiatan-kegiatan yang bersifat menginventarisir asset teknologi informasi yang dimiliki perusahaan pada saat proyek dimulai dengan tujuan:
o       Mempelajari infrastruktur teknologi informasi yang dimiliki perusahaan dan tingkat efektivitas penggunaannya selama kurun waktu tersebut; dan
o       Menganalisa kemungkinan-kemungkinan diperlukannya penambahan sistem di kemudian hari (system upgrading) sehubungan akan diimplementasikannya teknologi baru.
Keluaran dari proses analisa di kedua aspek ini adalah berupa isu-isu (permasalahan) penting yang harus segera ditangani, analisa penyebabnya, dampaknya bagi bisnis perusahaan, beberapa kemungkinan skenario pemecahan dengan segala resiko cost/benefit dan trade-off, serta pilihan solusi yang direkomendasikan. Sebelum memasuki fase desain, seluruh tim harus faham mengenai isu-isu ini dan memilki komitmen untuk melanjutkan proyek yang ada ke tahap berikutnya sesuai dengan skala prioritas yang telah ditentukan (setelah memilih skenario yang disetujui bersama).

                        TAHAP DESAIN

Pada tahap desain, tim teknologi informasi bekerja sama dengan tim bisnis atau manajemen melakukan perancangan komponen-komponen sistem terkait. Tim teknologi informasi akan melakukan perancangan teknis dari teknologi informasi yang akan dibangun, seperti sistem basis data, jaringan komputer, metoda interfacing, teknik konversi data, metode migrasi sistem, dan lain sebagainya. Model-model umum seperti Flowchart, ER Diagram, DFD, dan lain sebagainya dipergunakan sebagai notasi umum dalam perancangan sistem secara teknis. Sementara itu secara paralel dan bersama-sama tim bisnis atau manajemen akan melakukan perancangan terhadap komponen-komponen organisasi yang terkait seperti prosedur (SOP=Standar Operation Procedures), struktur organisasi, kebijakan-kebijakan, teknik pelatihan, pendekatan SDM, dan lain sebagainya. Tim ini pun biasanya akan mempergunakan model-model umum seperti Porter’s value chain, business process mapping, strategic distinction model, BCG matrix, dan lain-lain. Sudah jelas bahwa hasil dari tahap ini berupa blue print rancangan sistem secara teknis dan secara manajemen yang akan dijadikan pegangan dalam proses konstruksi dan implementasi komponen-komponen pada sistem informasi yang akan dikembangkan.

                        TAHAP KONSTRUKSI

Berdasarkan desain yang telah dibuat, konstruksi atau development sistem yang sesungguhnya (secara fisik) dibangun. Tim teknis merupakan tulang punggung pelaksana tahap ini, mengingat bahwa semua hal yang bersifat konseptual harus diwujudkan dalam suatu konstruksi teknologi informasi dalam skala detil. Dari semua tahapan yang ada, tahap konstruksi inilah yang biasanya paling banyak melibatkan sumber daya terbesar, terutama dalam hal SDM, biaya, dan waktu. Kontrol terhadap manajemen proyek di tahap konstruksi harus diperketat agar tidak terjadi ketidakefisienan maupun ketidakefektivan dalam penggunaan beragam sumber daya yang ada (yang secara tidak langsung akan berdampak langsung terhadap keberhasilan proyek sistem informasi diselesaikan secara on-time). Akhir dari tahap konstruksi biasanya berupa uji coba sistem. Perbaikan-perbaikan bersifat minor biasanya harus dilakukan setelah adanya masukan-masukan setelah evaluasi diadakan.

                        TAHAP IMPLEMENTASI

Tahap implementasi merupakan tahap yang paling kritis karena untuk pertama kalinya sistem informasi akan dipergunakan di dalam perusahaan. Biasanya ada dua pendekatan yang dipergunakan oleh perusahaan: cut-off atau paralel. Pendekatan cut-off atau big-bang adalah suatu strategi implementasi sistem dimana dipilih sebuah hari sebagai patokan, dimana terhitung mulai hari tersebut, sistem baru mulai dipergunakan dan sistem lama sama sekali ditinggalkan. Sementara pendekatan paralel dilakukan dengan cara melakukan pengenalan sistem baru sementara sistem lama belum ditinggalkan, sehingga yang terjadi adalah berjalannya dua buah sistem secara paralal (kedua sistem biasa disebut sebagai testing environment dan production environment). Pemilihan terhadap kedua strategi tersebut tentu saja tergantung kepada perusahaan masing-masing, melihat bahwa masing-masing strategi implementasi memiliki sejumlah keuntungan dan kerugian yang berbeda. Lepas dari strategi yang dipilih, pemberian pelatihan atau training harus diberikan kepada semua pihak yang terlibat sebelum tahap implementasi dimulai. Selain untuk mengurangi resiko kegagalan, pemberian pelatihan juga berguna untuk menanamkan rasa memiliki (sense of ownership) terhadap sistem baru yang akan diterapkan, sehingga seluruh jajaran pengguna atau SDM akan dengan mudah menerima sistem tersebut dan memeliharanya di masa-masa mendatang dengan baik. Evaluasi secara berkala perlu dilakukan untuk menilai kinerja sistem baru yang diterapkan disamping untuk mengetahui isu-isu permasalahan yang timbul. Tentu saja pemecahan masalah dalam tahap implementasi harus segera dicari agar sistem tersebut dapat efektif penggunaannya.
Proyek sistem informasi biasanya ditutup setelah tahap implementasi dilakukan. Namun ada satu tahapan lagi yang harus dijaga manajemennya, yaitu tahap pasca implementasi. Dari segi teknis, yang dimaksud dengan aktivitas-aktivitas pasca implementasi adalah bagaimana manajemen pemeliharaan sistem akan dikelola (maintenance, supports and services management). Seperti halnya sumber daya yang lain, sistem informasi akan mengalami perkembangan dikemudian hari. Hal-hal seperti modifikasi sistem, interfacing ke sistem lain, perubahan hak akses sistem, penanganan terhadap fasilitas pada sistem yang rusak, merupakan beberapa contoh dari kasus-kasus yang biasa timbul dalam pemeliharaan sistem. Di sinilah perlunya dokumentasi yang baik dan transfer of knowledge dari pihak pembuat sistem ke SDM perusahaan untuk menjamin terkelolanya proses-proses pemeliharaan sistem. Tidak jarang terjadi peristiwa dimana perusahaan atau personel pembuat sistem sudah tidak diketahui lagi lokasinya setelah bertahun-tahun (mungkin perusahaannya tutup, atau yang menangani sistem sudah pindah ke tempat kerja lain). Bisa dibayangkan bagaimana perusahaan pemakai sistem terpaksa membuang sistemnya (membuat sistem baru lagi) atau melakukan tambal sulam (yang secara teknis sangat berbahaya karena tingkat integritas data yang buruk) akibat tidak adanya dokumentasi teknis yang baik atau infrastruktur manajemen pemeliharaan yang efektif.

                        TAHAP PASCA IMPLEMENTASI

Dari segi manajemen, tahap pasca implementasi berupa suatu aktivitas, dimana harus ada personel atau divisi dalam perusahaan yang dapat melakukan perubahan atau modifikasi terhadap sistem informasi sejalan dengan perubahan kebutuhan bisnis yang teramat sangat dinamis. Dengan kata lain, bahwa dalam era kompetisi sekarang ini, perusahaan harus mampu berubah dengan sangat cepat. Sistem informasi atau teknologi informasi yang secara teknis tidak dapat beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan bisnis perusahaan sudah selayaknya tidak akan mendapatkan tempat yang baik. Apakah teknologi informasi di perusahaan-perusahaan dapat dengan mudah mengikuti perubahan kebutuhan bisnis secara cepat? Jika belum, sudah waktunya bagi pimpinan perusahaan berbicara dengan departemen atau divisi yang bertanggung jawab terhadap teknologi informasi di perusahaan anda. Dalam kenyataannya, sudah ada teknologi yang dapat menjawab kebutuhan ini, dan sudah terbukti efektif. Tidak ada tempat bagi perusahaan modern di tahun 2000 nanti yang masih menggunakan pendekatan sistem informasi dan teknologi informasi secara konservatif (yang bagi sebagian perusahaan besar di Indonesia masih menganggap pendekatan konservatif tersebut sebagai pendekatan ter-modern)
Pemeriksaan Pasca Implementasi
Pemeriksaan pasca pelaksanaan dilakukan setelah selesainya proyek pengembangan system. Analisis dan evaluasi terhadap system baru ini biasanya terjadi kira – kira enam bulan setelah konversi. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah system baru itu mencapai tujuan yang ditetapkan baginya selama analis system.
Tanggung Jawab Atas Pemeriksaan
Komisi pengarah system informasi menunjuk tim pemeriksa untuk melakukan pemeriksaan pasca pelaksanaan. Tim pemeriksa biasanya terdiri dari satu atau dua analis system yang berpartisipasi dalam proses pengembangan dari analis system melalui pelaksanaan. Tim pemeriksa juga menyertakan seseorang yang independen, yang tidak bekerja pada proyek pengembangan.
“Tahap akhir dalam siklus pengembangan sistem”
Melibatkan pengintegrasian semua komponen rancangan sistem => termasuk Perangkat Lunak, pengkonversian system total ke operasi.
Proses Implementasi :
·        Perncanaan
·        pengeksekusian
Adalah formulasi rinci dan representasi grafik mengenai cara pencapaian implementasi sitem yang akan dilaksanakan (Tergantung pada Kompleksitas proyek).
Team Implementasi :
• Profesional sistem yang merancang sistem
Para manajer dan beberapa staff
• Perwakilan Vendor
• Pemakai Primer
• Pengcode
• Teknisi

Pemeliharaan Sistem
Merupakan siklus terakhir dari SDLC
Pemeriksaan periodik, audit dan permintaan pengguna akan menjadi sourceuntuk melakukan perawatan sistem diseluruh masa hidup sistem
Jenis Pemeliharaan
ü      Pemeliharaan Korektif
ü      Pemeliharaan Adaptif
ü      Pemeliharaan Perfektif
ü      Pemeliharaan Preventif
Siklus Hidup Pemeliharaan Sistem (SMLC) Permintaan Perubahan Mengubah permohonan pemeliharaan menjadi suatu perubahan yaitu :
§         Menspesifikasi perubahan
§         Membangun pengganti
§         Menguji pengganti
§         Melatih pengguna dan melakukan tes penerimaan
Siklus Hidup Pemeliharaan Sistem (SMLC) Pengkonversian dan pelepasan ke operasi
Mengupdate dokumentasi Melakukan pemeriksaan pascaimplementasi
Prosedur Pemeliharaan Sistem SDLC dan SWDLC
Definisi data standar Bahasa pemrograman standar
Rancangan Moduler Model yang dapat digunakan kembali
Dokumentasi standar Kontrol sentral
Case Tools Untuk memelihara Sistem
-        Forward engineering
-        Reverse Engineering
-        Reengineering
-        Restrukturing
Maintenance Expert Systems
Mengatur Pemeliharaan Sistem
Menetapkan kegiatan pemeliharaan
Mengawali dan merekam kegiatan
pemeliharaan sistem tidak terjadwal
HELP DESK
Mengevaluasi aktivitas pemeliharaan sistem
Mengembangkan perubahan sistem manajemen ( CMS)
Model Umum CMS :
Membatasi akses ke sumber produksi dan kode objek
Mengurangi kesalahan dan mendesain cacat
Mencegah keberadaan lebih dari satu versi program sumber dan kode objek dalam file master produksi
Mengembangkan kualitas dan reliabilitas
Mempertinggi keamanan dan kendali
Mempertinggi produktivitas perangkat lunak Komponen CMS Fasilitas fungsi perpustakaan Perintah kerja pemeliharaan Bengkel kerja programmer
ü      File master tes
ü      File master jaminan kualitas
ü      File master produksi
ü      File master cadangan
ü      Laporan manajemen dan jejak audit
Konsep data dan Informasi
Data adalah fakta dan angka yang tidak sedang digunakan pada proses keputusan, dan biasanya berbentuk catatan historis yang dicatat dan diarsipkan tanpa maksud segera diambil kembali untuk pengambilan keputusan. Sedangkan informasi adalah sekumpulan data yang telah diambil kembali, diolah, dan digunakan untuk kesimpulan, argumentasi atau sebagai dasar peramalan dan pengambilan keputusan. Dengan kata lain, data adalah bahan mentah informasi.
Dalam konteks komunikasi, informasi adalah kejadian atau serangkaian kejadian yang mengandung pesan, yang ketika dipersepsi oleh penerima melalui proses pemaknaan, akan menambah pengetahuan bagi penerima tersebut. Dengan demikian kejadian atau data menjadi informasi adalah bergantung kepada pengguna, dan makna informasi bergantung kepada persepsi, latar belakang, dan penilaian pengguna.
Informasi berfungsi untuk meningkatkan pengetahuan dan mengurangi ketidakpastian pengguna.
                           Proses Pembuatan Informasi dari Data
Data merupakan elemen dasar untuk pembuatan informasi. Data dapat diubah menjadi sesuatu yang berarti melalui proses dalam suatu model keputusan.
Informasi merupakan produk pokok dari sistem informasi. Hal yang mendasari suatu proses keputusan adalah ketidaktentuan. Informasi mempunyai dua fungsi dasar, yaitu mengurangi keragaman dan memberikan umpan balik.
Informasi merupakan komoditas yang berguna dan bernilai, dan sebagai konsekuensinya diperlukan biaya untuk menghasilkannya. Agar lebih ekonomis maka biaya untuk menghasilkan informasi harus sesuai dengan nilainya.
Pengolahan data menjadi informasi dapat melalui empat metode, yaitu
(1) manual,
(2) elektromekanik,
(3) perlengkapan punched card (kartu pencatat), dan
(4) komputer elektronik (termasuk di dalamnya penggunaan CD-rom).
Untuk memahami kemampuan/kinerja metode pengolahan data perlu memperhatikan: penanaman modal awal; persiapan; konversi; kebutuhan; kecepatan pengolahan; kemampuan penghitungan; kontrol pengolahan; pendeteksian kesalahan otomatis; kemampuan pembuatan keputusan; degradasi sistem dan tingkat otomasi.
Pengadaan informasi memerlukan biaya. Pertimbangan biaya dalam sebuah pengolahan informasi dapat memperhatikan: harga perangkat kerasnya; harga perancangan dan penerapan analisis sistem; harga untuk faktor kendali lingkungan; harga suatu konversi; dan harga pengoperasian.
Selain harga, nilai informasi perlu juga mendapat perhatian analis sitem, yaitu menyangkut pada: aksesibilitas, kelengkapan, keakuratan, ketepatan, singkat waktu, kejelasan, kelenturan, kemampuan diuji, kebebasan dari bias; dan dapat dihitung.
                                  Analisis Sistem dan Konsepsi Sistem
Ilmu sistem dalam perkembangannya dipengaruhi oleh Kibernetika, sebagai penggambaran umpan balik dalam mengatur gerakan mekanis, atau sebagai pengendali dan komunikasi.
Sistem secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu kumpulan objek-objek yang terangkai dalam interaksi dan saling ketergantungan yang teratur.
Konsepsi sistem merupakan abstraksi komponen-komponen pembentuk sistem ke dalam suatu definisi. Konsepsi sistem memiliki beberapa aspek, yaitu (1) unsur-unsur sistem; (2) tujuan sistem; (3) tindakan untuk mencapai tujuan; (4) proses; (5) output; (6) ukuran keberhasilan.
Hubungan antarsistem atau subsistem dapat bersifat hubungan seri dan hubungan pararel. Sedangkan klasifikasi sistem dapat dilihat dari tingkat keterdugaannya dan kerumitannya.


0 komentar:

Posting Komentar

Labels

Tags

Calender

My Friends